Perlindungan Muta’im bin Adi ke atas Rasulullah s.a.w


Oleh: kamal_hasan

Ketika Rasulullah saw kembali dari Thaif beliau tidak boleh masuk ke kota Makkah kecuali dengan perlindungan dari seorang tokoh Musyrikin Quraisy yang bernama Al-Muth’im bin ‘Adi.

Jiwar adalah salah satu produk hukum musyrikin Arab yang berarti perlindungan atau suaka politik. Hukum ini menegaskan bahwa seorang tokoh diantara mereka boleh menyatakan dengan bebas untuk memberikan perlindungan kepada seseorang, sehingga siapapun tidak boleh menyakiti orang orang itu sebagai penghormatan kepada orang yang melindungi dan pengakuan terhadap ketokohan, kehormatan dan pengaruhnya.

Ketika Rasulullah saw kembali dari Thaif beliau tidak boleh masuk ke kota Makkah kecuali dengan perlindungan dari seorang tokoh Musyrikin Quraisy yang bernama Al-Muth’im bin ‘Adi. Rasulullah saw meminta perlindungan darinya dan ia mengabulkan permintaan Nabi. Al-Muth’im bin ‘Adi dan keluarganya kemudian mengambil perlengkapan senjata mereka  dan keluar bersama menuju Masjid Haram. Setelah sampai di Masjid, ia mengutus orang untuk meminta Rasulullah saw segera masuk ke kota Makkah. Rasulullah saw pun memasuki kota Makkah, lalu menuju Masjid Haram, thawaf di Ka’bah dan melakukan shalat, kemudian kembali ke rumahnya.[1] Diriwayatkan bahwa Abu Jahal sempat bertanya kepada Al-Muth’im bin ‘Adi:

أَمُجِيْرٌ أَنْتَ أَمْ مُتَابِعٌ – مُسْلِمٌ؟

قال: بَلْ مُجِيْرٌ.

قال: قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتَ.

Abu Jahal: “Engkau pemberi jiwar ataukah pengikut Muhammad (muslim)?”

Al-Muth’im: “Aku pemberi jiwar.”

Abu Jahal: “Kami melindungi siapapun yang engkau lindungi.”[2]

Pembelaan Al-Muth’im bin ‘Adi ini amat berkesan di hati Rasulullah saw, sehingga ketika perang Badar selesai dan Rasulullah saw telah memutuskan perlakuan terhadap tawanan perang Badar, beliau bersabda:

لَوْ كَانَ الْمُطْعِمُ بْنُ عَدِيٍّ حَيًّا، ثُمّ كَلَّمَنِي فِي هَؤُلَاءِ النَّتْنَى، لَتَرَكْتُهُمْ لَهُ.

Seandainya Al-Muth’im bin ‘Adi masih hidup kemudian berbicara kepadaku tentang tawanan perang yang buruk ini, pasti akan kubebaskan mereka untuknya.[3]

Peristiwa perlindungan oleh Al-Muth’im ini terjadi setelah bapa saudara Rasulullah saw – Abu Thalib – wafat. Sebelum itu, Rasulullah saw dengan suka rela menerima perlindungan dari  Abu Thalib yang sampai akhir hayatnya tidak masuk Islam. Ketika Abu Thalib juga memberikan perlindungan kepada Salamah bin ‘Abdil Asad ra sekelompok orang dari Bani Makhzum datang kepadanya: “Wahai Abu Thalib, engkau telah melindungi anak saudara laki-lakimu Muhammad, mengapa kini engkau lindungi orang ini dari kami?” Abu Thalib menjawab: “Ia telah meminta perlindungan kepadaku, dan ia adalah anak saudara perempuanku. Bila aku tidak melindungi anak saudara perempuanku, maka aku juga tak akan melindungi anak saudara laki-lakiku.”

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

  • Top Rated

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 16,583 other followers

%d bloggers like this: