Kisah pemilik 2 kebun


Afriza Hanifa,

Al-kisah, pada masa lalu terdapat seorang yang kaya raya. Orang itu memiliki dua kebun anggur yang sangat luas. Dua kebun itu pun dikelilingi pohon-pohon kurma yang sangat rendang. Antara dua kebun itu ada ladang yang amat subur. Sungai pun mengalir di celah kedua kebun. Tak pernah lelaki itu mengalami gagal mengutip hasilnya. Dua kebunnya selalu menghasilkan buah melimpah ruah.

Hasil, harta lelaki itu pun menggunung. Dia memiliki kekayaan yang besar dari perniagaan dua kebunnya. Oleh sebab kekayaannya, ia pun memiliki kedudukan terhormat dalam masyarakat. Masyarakat sekitarnya sangat menghormatinya. Namun lelaki ini tidak beriman dan tidak meyakini kekuasaan Allah. Maka sifat bongkak pun menguasai hatinya dan menambah kekafirannya.

Suatu hari, lelaki itu bertemu dan bercakap dengan seorang temannya. Berbeza dengannya, teman itu miskin. Jangankan kebun, sebatang pohon pun temannya itu tidak ada. berbanding dengan si pemilik kebun, kekayaan lelaki itu bagai langit dan bumi. Namun kendatipun hidupnya susah, lelaki miskin itu merupakan seorang beriman yang taat kepada Allah.

ketika bertemu dengan kawan miskin itu, pemilik dua kebun pun segera menyombongkan diri, ia berkata pada kawannya, “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat,” ujarnya.

Namun kawannya itu hanya mendiamkan diri. Kawannya tahu betul bahwa harta tidak dapat meningkatkan darjat seseorang di sisi Allah. Kemudian pemilik kebun membawa lelaki miskin itu memasuki kebunnya yang luas dan melimpah.

Pemilik kebun makin besar kepala, dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembali kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu,” ujarnya dengan bongkak.

Mendengarnya, barulah lelaki beriman itu memberi reaksi. Dia melihat temannya di dalam kekafiran yang nyata dan menzalimi dirinya sendiri. Dia berusaha menyampaikan dakwah demi menyelamatkan temannya dari kekafiran. “Tetapi aku percaya bahwa Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak menyekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah. Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah,” nasihatnya kepada si pemilik kebun.

Namun si pemilik dua kebun masih terus dengan kesombongannya. Hatinya tidak melihat kekuasaan Allah di sebalik rezeki dan perniagaan kebunnya. dia menyangka semua yang dihasilkan kebunnya adalah jerih payahnya sendiri.

Maka teman mukminnya itu pun kembali megingatkan, “Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku kebun yang lebih baik dari pada kebunmu ini; dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan kilat dari langit kepada kebunmu; hingga kebun itu menjadi tanah yang kontang; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi,” ujarnya berusaha menginatkan temannya akan ujian Allah pada harta dan azabNya yang ditimpakan pada orang kafir.

Maka keesokan hari, apa yang diperingatkan lelaki miskin itu menjadi nyata. Tanaman di kedua-dua kebun itu tiba-tiba mati. Pohon-pohon kurma dan anggur di dalamnya tumbang menyembah bumi. Air sungai yang mengairi kebun surut mengakibatkan kebun kering-kontang.

Harta kekayaan si pemilik kebun pun binasa sudah. Melihatnya, si pemilik kebun pun hanya tertunduk dan membolak balikan kedua tangannya. dia ditimpa penyesalan yang teramat sangat. “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan Tuhanku,” ujarnya menangis tersedu.

Kisah lelaki pemilik dua kebun itu dinukilkan oleh Allah dalam Surah al-Kahfi ayat 32 hingga 46. Silahkan rujuk kembali kitabullah. Kisah itu disebut menjadi tamsil kehidupan dunia dan orang-orang yang tertipu padanya. Bahkan sekarang ini dapat dilihat betapa orang-orang kafir mendapat kenikmatan yan banyak dari Allah.

Namun itu semua hanyalah ujian untuk mereka, bukan kerana Allah mencintai mereka. Sebaliknya muslimin, betapa banyak dari muslimin yang diuji dalam kemiskinan. Namun itu bukanlah kerana Allah membenci mereka. Allah memberikan dunia kepada setiap manusia, namun Allah hanya memberikan agama pada orang yang dicintai-Nya.

Di akhir kisah, Allah pun memberi peringatan, “Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur kerananya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi soleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan,”
Surah Al Kahfi ayat 45-46.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

  • Top Rated

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 16,583 other followers

%d bloggers like this: