Julianne Scasny, Masuk Islam Setelah Hatinya Bergetar Membaca Al-Qur’an


5 April 1982, Julianne Scasny dilahirkan di Michigan, Amerika Serikat   (AS). Ia lahir dari orangtua berdarah Polandia-Suriah. Dibesarkan   sebagai Katolik, Julianne pernah berkeinginan menjadi biarawati.
Suatu hari ketika mengikuti pelajaran sejarah di sekolahnya, Julianne    kagum dengan keberanian seorang siswa yang memprotes gurunya. Siswa  Muslim itu meluruskan cerita guru yang salah tentang Islam saat ia   membahas agama-agama besar di dunia.

‘’Wow, dia berani sekali membantah guru,’’ ujar Julianne. Dan sejak   saat itu, Julianne mulai tertarik pada Islam. Pencarian Membawa Hidayah
Penasaran dengan Islam membuat Julianne melakukan proses pencarian. Ia    pun bertanya kepada temannya yang beragama Islam tentang perbedaan   antara Katolik  dan Islam. Sayangnya, temannya itu tak banyak memberi   penjelasan. Julianne belum menemukan jawaban atas kepenasarannya.
Julianne tak menyerah.  Ia kemudian mengunjungi rumah teman sekelasnya    yang Muslim itu. Ia lalu meminjam Al-Quran terjemah bahasa Inggris dari   orangtua temannya. Begitu membaca Al-Qur’an, gadis pecinta  sastra dan puisi itu sangat  terpesona. Hatinya bergetar. Ketertarikan  pada keindahan bahasa  Al-Qur’an mendorongnya untuk membaca seluruh ayat  di dalam kitab suci  itu. “Jika kitab ini ditulis dalam bahasa  Inggris sekalipun, penulisnya tak  mungkin seorang manusia. Ini firman  Tuhan,’’ ujar Julianne dalam hati. “Sejak saat itu, saya menjadi Muslim di dalam hati,’’ kenang Julianne.
Julianne pun mengucap dua kalimah syahadat. Ia bertekad menjadi seorang   Muslimah, meski tantangan berat harus dihadapinya. Dalam hatinya telah   tertanam sebuah keyakinan bahwa Islam adalah agama yang paling benar. Tantangan Menjadi Muslimah   Kedua orangtua Julianne sangat marah begitu tahu bahwa Julianne telah   memeluk Islam. Mereka tak bisa menerimanya, terutama sang ibu.
Ibunya  berusaha melarang Julianne berteman dengan orang-orang Muslim.    Sang ibu juga kerap menelepon orangtua temannya agar tak lagi   mendakwahkan Islam kepada Julianne. Julianne sempat bingung. Namun,   imannya tak goyah sedikitpun. Sang ayah tak kalah marah. Setiap   hari ia membongkar kamar Julianne.  Semua barang-barang  bernuansa  Islam  yang ada di kamar Julianne seperti  sajadah, hijab, dan Al-Qur’an   disitanya. Khawatir Al-Qur’annya dibuang,  Julianne terpaksa  menyembunyikannya di ventilasi pendingin udara. Berbagai upaya dilakukan kedua orangtuanya agar Julinanne melepas  keyakinannya sebagai  Muslim. Mereka berusaha mengajak Julianne ke  gereja. Suatu hari  Julianne dipertemukan dengan pendeta. Di depan  pendeta, Juliane  mengatakan amat cinta kepada Islam. Tidak berhenti di situ,  sang ibu kerap menghidangkan masakan yang  terbuat dari babi, namun  mengatakan kepada Julianne bahwa makanan itu  terbuat dari daging sapi. Julianne yang berkomitmen untuk hanya  mengkonsumsi makanan halal sesuai  ajaran Islam kemudian memeriksa  pembungkus makanan yang dihidangkan  ibunya. Ternyata dugaannya benar,   masakan yang disajikan itu terbuat  dari daging babi. Selain menjaga makanan halal, shalat adalah  perjuangan berat bagi  Julianne. Keluarganya selalu mengolok-olok setiap  Julianne shalat.  Mereka juga berusaha mencegah Julianne, sehingga ia  sempat tidak shalat. “Shalat adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di rumah, mereka mengolok-olok ketika saya shalat,’’ ujar Julianne. Semangat Thalabul Ilmi
Keterbatasan yang dialami Julianne tidak membuatnya terputus dari   semangat mencari ilmu agama (thalabul ilmi). Ia mempelajari shalat dalam    bahasa Arab secara otodidak melalui video dan buku-buku.   Ketika ia berusia 20 tahun dan berstatus sebagai mahasiswi, doa Julianne    yang ingin mendalami Islam terkabul. Sebuah masjid dibangun di dekat   lingkungannya. Julianne pun menuntut ilmu di sana. Bahkan ia memperbarui   syahadatnya pada Ramadhan tahun itu. Julianne kemudian  memakai hijab. Tantangan lebih keras ia dapatkan lagi  dari keluarganya.  Kedua orangtuanya marah hebat. Ibunya bahkan pernah  berusaha melepas  paksa hijabnya. Menikah menjadi Solusi “Satu-satunya hal yang dapat  kulakukan agar keluar dari kesulitan ini adalah dengan menikah,” tekad Julianne saat itu.
Mengetahui Julianne hendak menikah secara Islam dengan pria Muslim,   ibunya tak setuju. Sang ibu menghendaki Julianne menikah dengan pria   Kristen di gereja, dengan gaun putih pada saat upacara pernikahannya. “Ibu ingin aku menikah dengan seorang Kristen dan melaksanakannya di gereja,” tutur Julianne.
Keteguhan Julianne pada Islam membuat pernikahan itu akhirnya berjalan    dengan lancar, meskipun sang ibu terus berusaha membatalkannya. Setelah   menikah, Julianne yang mengganti namanya menjadi Noora Alsamman pindah   dari Atlanta ke Houston. Kini, Julianne telah memiliki putra dan  bersama  keluarganya berkomitmen untuk menjalankan Islam sebagai jalan  hidupnya.  [AM/Rpb]

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

  • Top Rated

  • Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

    Join 16,583 other followers

%d bloggers like this: